merapi.jpg

Isyarat Terjadinya Bencana Lain

Dimuat di POSMO Edisi 448, tanggal 5 Desember 2007.

Gunung Merapi terkesan adem ayem. Namun aktivitasnya tak boleh dipandang sebelah mata. Diam-diam, gunung berapi paling aktif itu mengalami peningkatan aktivitas yang cukup serius. Bahkan, kini sering meluncurkan awan panas. Pertanda apa?

Gunung Merapi kembali menunjukkan keangkerannya. Belakangan, keberadaan gunung yang tak bisa dilepaskan dari mitos dan budaya tradisi Keraton Kasunanan Surakarta maupun Kasultanan Jogjakarta itu menampakkan fenomena yang perlu dicermati. Secara fluktuatif, Gunung Merapi belakangan meluncurkan awan panas yang diakui atau tidak membuat kekhawatiran penduduk yang tinggal di sekitarnya.

Spiritualis Drs. RM Putra Wisnu Agung Diponegoro M.Si melihat bahwa fenomena yang terjadi pada Gunung Merapi saat ini memang sarat makna yang perlu diterjemahkan secara benar. Keberadaan gunung berapi yang teraktif di dunia yang belakangan menunjukkan peningkatan aktivitasnya dengan ditandai keluarnya awan panas terjadi bukannya tanpa alasan. ”Secara fisik, keluarnya awan panas dari Gunung Merapi merupakan peristiwa alam biasa. Namun di balik itu ada muatan-muatan lain yang sulit dilogikakan,” tuturnya.

Dosen yang juga Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta (UNSA) ini menambahkan, muatan-muatan lain yang sulit diterima akal sehat dari fenomena tersebut menyiratkan dunia akan menuju ketatanan baru ke arah keseimbangan antara kehidupan fisik dan kehidupan spiritual. Bumi sedang menuju revolusinya sendiri.Terjadinya feneomena ini juga diakibatkan berperannya kekuatan kekuatan panas, yang dipengaruhi oleh makhluk gaib yang mbaurekso tanah Jawa. ”Jika yang mbaurekso tanah Jawa sudah bersentuhan dengan Gunung Merapi berarti masyarakat Jawa harus berhati-hati terhadap letusan yang dahsyat.” imbuhnya.

Tanpa maksud menakut-nakuti, Gung Merapi akan meletus dahsyat dan membuat peradaban baru bagi manusia. Seperti yang terjadi sekitar 1000 tahun lalu, bila sebelumnya di Turki telah terjadi gempa hebat. Mengapa bisa? Hal itu, menurut Wisnu, sekiranya telah merupakan konvensi internasional di dunia gaib. Jelasnya, jika di Turki sudah terjadi gempa berarti Gunung Merapi atau gunung-gunung lainnya di tanah air yang masih aktif kemungkinan besar akan meletus dengan hebatnya.

Menurut Wisnu, keluarnya awan panas dari Gunung Merapi yang tidak lumrah sebenarnya harus disikapi bahwa fenomena itu merupakan peringatan awal bagi kehidupan manusia. Untuk merubah perilakuknya yang sudah keluar dari norma-norma pergaulan jagad raya. Manusia sudah sangat sombong, merasa dirinya sudah menjadi penguasa jagad raya.

Oleh karena itu, menyikapi luncuran awan panas dari Gunung Merapi ini hendaknya setiap orang tidak melihat fenomena alam dari sisi fisik atau lahiriah saja. Namun harus dicermati dengan pandangan suprantaural/gaib. Sebab, begaimanapun, peristiwa yang melingkupi keberadaan Gunung Merapi tidak bisa dipisahkan dengan dimensi lain.

Pada sisi lain Wisnu mengungkapkan, fenomena terjadinya luncuran awan panas di Gunung Merapi paling tidak mengisyaratkan akan terjadinya bencana lainnya di negeri ini. ”terus terang saya khawatir, dengan fenomena yang ditunjukkan oleh Gunung Merapi ini akan mengakibatkan munculnya bentuk-bentuk bencana lainnya. Entah itu paceklik, pagebluk dan lainnya yang membuat keprihatinan banyak orang,” paparnya.Wisnu menegaskan, untuk menyikapi fenomena yang membuat ketar-ketir (ketakutan) banyak orang ini hendaknya masyarakat Jawa kembali ke cara nenek moyang yang sering melakukan kontak batin dengan ritual-ritual tertentu untuk mengakui kekuatan-kekuatan lain di luar manusia. Contoh nyata seeprti yang dilakukan Mbah Marijan selama ini. Berkat ketekunan dan tetap memegang nilai-nilai tradisi, ia bisa bersahabat dengan Gunung Merapi. ”Selain meningkatkan keimanan, masyarakat Jawa harus kembali lagi ke traditional shelter. Dalam mengakrabi alam hendaknya jangan hanya berpikir sok moderen yang terkadang tak bisa menyentuh akan persoalan,” terang Wisnu.

Selain itu, untuk menepis kekhawatiran terhadap luncuran awan panas dan mendapat keselamatan hendaknya perlu dicari titik keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos. Sebab, jika makrokosmos sudah bergolak pasti akan mempengaruhi pola pikir dan kehidupan manusia. Sebaliknya, karena sikap manusia yang didominasi kesombongan, keserakahan dan lainnya juga akan berimbas pada alam yang berubah dan tak mengenakkan. ”Intinya, untuk mendapatkan keselamatan, masyarakat harus kembali ke traditional shelter yang telah dibuktikan secara empiris dan diakui kebenarannya sebelum ilmu pengetahuan moderen berkembang,” tukas Wisnu. >>IRUL SB. 

2 Responses to “Di Balik Gunung Merapi yang Luncurkan Awan Panas”


  1. 1 widaningsih November 3, 2010 at 4:30 am

    bukannya harus nglakuin ritual-ritual nenek moyang,yang jelas harus segera hilangkan semua perbuatan itu, dekatkan diri semua kepada 4JJI tinggalkan hal-hal yg musrik…segera bertaubat.

  2. 2 deddy December 12, 2010 at 12:16 pm

    jaman sekarang banyak orang yang ngaku orang jawa…namun tidak bisa njawani~~~~~alias wong jowo ning ora isoh njawani~~~~~


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: