Dimuat di POSMO Edisi 432, tanggal 15 Agustus 2007 

Melihat eksistensi makhluk gaib, entah itu jin, setan, dsb, biasanya orang lantas mengkonotasikan sebagai sosok yang jahat. Suka mengganggu manusia. Sering digambarkan seram dan menakutkan. Berikut kajian budayawan Drs. RM. Putra Wisnu Agung Diponegoro, M.Si. 

Menyikapi eskistensi makhkluk halus hendaknya dikembalikan pada porsi yang benar. Artinya, kita jangan melihat bahwa yang namanya makhluk halus seperti jin (atau ada yang menyebutnya sebagai hantu) sebagai sosok yang jahat. Suka mengganggu manusia. ”Makhluk halus tidak selalu jahat. Pada dasarnya mereka sangat kooperatif dan lebih santun dibandingkan manusia,” tutur Drs. RM Putra Wisnu Agung Diponegoro, M.Si. Budayawan, spiritualis, sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta (Unsa) ini mengungkapkan, karena kesombongan manusiayang merasa sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, tak jarang menjadikan mereka terus melakukan ekspansi dan mengganggu eksistensi makhluk halus. ”Jika mereka diganggujelas akan melakukan reaksi. Intinya, mereka tak akan mengganggu manusia jika manusia tak pernah mengganggunya,” imbuhnya. Oleh karena itu, terang Wisnu, kalau ada orang yang bisa melihat hantu ataupun bisa melakukan pengusiran dan penangkapan, hendaknya ilmu yang dimiliki tersebut tak perlu dipamerkan. Terlebih melakukan demo penangkapan hantu di mana-mana. Kalau hal itu terjadi, tak menutup kemungkinan makhluk halus yang punya komunitasseperti layaknya manusia juga akan punya rasa amarah.

”Adanya kasus-kasus kesurupan masal, diculik hantu, dan lainnya yang sering terjadi belakangan  ini sebenarnya akibat ulah manusia sendiri. Seperti dengan pengusiran dan penangkapan makhluk halus diberbagai tempat misalnya,” paparnya. Manusia hendaknya menyadari bahwa keberdaan dan umurnya di dunia ini sebenarnya relatif pendek dibandig mereka. Oleh karena itu, adanya kasus-kasus pengusiran dan penangkapan terhadap berbagai jenis makhluk halus mestinya harus dipertimbangkan secara matang. Mengingat, yang namanya makhluk halus lebih dulu menempati suatu tempat dibanding manusia. 

Menurut Wisnu, makhluk halus bentuknya seperti  energi. Sebenarnya penampakannya hanya menumpang halusinasi manusia sendiri. Karena berbentuk energi, jika manusia tak membayangkan apa-apa sebenarnya hanya bisa merasakan keberadaanya saja. Seperti ditandai dengan bulu kuduk berdiri, ada desiran angin, dan lainnya. Sebagai bentuk energi setidaknya bisa dicontohkan dengan satu kasus semisal tiga orang berada di tempat angker, ketiganya bisa melihat  fenomena berlainan. Semisal bentuk wanita cantik, raksasa atau lainnya. Makhluk halus yang berbentuk energi tentu tak terikat oleh waktu dan ruang. Karena itu, untuk melakukan pembuktian atas eksistensi makhluk halus ini sebenarnya tidak harus sevulgar seperti yang sering dilakukan banyak orang saat ini. Kenyataan yang dialami ini sebenarnya telah menunjukkan degradasi spiritual. Dan hal ini semestinya jangan dilanjutkan jika bangsa ini berpola pikir mundur. ”Implementasi dari semua itu adalah munculnya pola pikir animisme dan dinamisme. Kalau hal ini diteruskan jelas tak ada bedanya antara manusia sekarang dengan manusia purba,” tukas Wisnu. 

Dalam konteks kekinian hendaknya manusia tidak lagi melakukan ekspansi ke wilayah makhluk halus. Kalau hal ini terjadi seolah-olah manusia rebutan lahan dengan makhluk halus. Padahal Allah telah memberikan porsinya masing-masing. Manusia menempati dunia manusia, begitu pula makhluk halus menempati dunianya sendiri. Eksistensi makhluk halus sebenarnya tak perlu dipersoalkan. Sebagai orang beriman tentunya memahami bahwa agama telah mengajarkan bahwa makhluk gaib itu ada. Jika manusia terus melakukan ekspansi ke wilayahnya, pertanyaan yang pantas dimunculkan apa kepentingannya? ”Jika kepentinganya untuk uang, ini yang justru merepotkan,” tukas Wisnu. Wisnupun sempat menyayangkan jika makhluk halus terus didiskreditkan manusia sebagai sosok yang jahat. Seperti penunggu terowongan Casablanca selama ini diidentikan sebagai makhluk yang jahat. Padahal sebanrnya belum tentu demikian. ”Nah, akibat kevulgaran orang dalam menyikapi dan memperlakukan makhluk halus ini menjadikan mereka akan menuai akibat dan perbuatannya sendiri,” katanya. 

Pada sisi lain Wisnu mengemukakan, matra dan doa –doa leluhur kita sebenarnya tidak ada yang berbau konfrontatif, tapi selalu berisi pengakuan eksistensi antara makhluk gaib dan kasat mata. Justru jaman leluhur kita dulu sering memanfaatkan makhluk halus untuk memecahkan masalah. Sebagai contoh satu wilayah akan melakukan tapa padi sebelumnya menggelar ritual-ritual tertentu. Ini dari ritual itu adalah minta kepada para makhluk halus untuk menjaga agar tanamannya tak diserang hama. Wisnu mengingatkan, meski makhluk halus bisa diajak kerja sama, namun hendaknya manusia tak perlu meminta bantuannya. Sebab, manusia sudah dilengkapi dengan kekuatan nalar dan rasa. ”Jika dua kekuatan ini digabung, sebenarnya bisa dipergunakan untuk memecahkan segala permasalahan,” tandas Wisnu. >>IRUL SB

3 Responses to “Makhluk Gaib Tidak Selalu Jahat”


  1. 1 ufomania August 28, 2007 at 8:43 am

    Bagaimana dengan fenomena UFO? Benarkah mereka benar-benar ada? Apakah UFO itu sebenarnya masuk dalam golongan jin itu? Kunjungi situs http://www.geocities.com/indoufo/ Temukan fenomena lengkap tentang penampakan UFO.

  2. 2 mario September 29, 2008 at 10:36 am

    betul sekali apa yg dikatakan oleh bapak agung diatas.
    saya sangat setuju,karena pada dasarnya memang manusianya saja yg mengkatagorikan bahwa mahluk halus / ghoib itu tidak baik.jujur saja walaupun saya tidak tahu dunia gaib / halus
    tetapi saya yakin bahwa semua mahluk ALLAH SWT yg kelihatan maupun yg tidak kelihatan itu BAIK kalo kita baik dan begitu juga sebaliknya.

  3. 3 rahmad May 22, 2009 at 6:59 am

    Saya setuju dengan pendapat yang bapak keluarkan, akan tetapi saya merasa heran dikarenakan fenomena yang terjadi seperti perburuan benda benda pusaka, seperti keris,batu cincin,bambu petuk dll,bukankah manusia mahkluk yang sempurna lantas mengapa perburuan benda benda yang berdaya magis tinggi ini marak terjadi di masyarakat kita baik yang awam maupun kaum intlektual?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: