SPIRITUALISME

Dialog lintas agama, kepercayaan dan keyakinan.

Sasmita Alam Merebaknya Tanaman Anthurium

Bakal Muncul Tunas Pembaru 

Dimuat di POSMO edisi 434, tanggal 29 Agustus 2007. 

anthurium.jpgAnthurium sedang booming. Merebaknya tanaman hias berbagai jenis ini selalu menjadi perburuan hobiis. Tak hanya melambungkan harganya. Benarkah fenomena ini merupakan sasmita (tengara) alam? 

Apa kaitan tanaman hias dengan tengara alam? Spiritualis Drs. RM Putra Wisnu Agung Diponegoro M.Si mengakui hal ini terdapat benang merah. Tanaman anthurium yang lagi ngetren dan merebak di mana-mana, khususnya kota Solo dan sekitarnya sebagai pusatnya, tak sekedar menjadi ajang bisnis bagi para penghobi tanaman hias. Tapi, di balik itu sebenarnya bisa ditangkap adanya sasmita alam yang harus dicermati dan diterjemahkan maknanya.

”Merebaknya tanaman jenmanii dan gelombang cinta ini merupakan sasmita alam terhadap sesuatu yang bakal terjadi di negeri ini,” katanya. Pria yang juga Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta (UNSA) ini menjelaskan, dikatakan sasmita alam karena menurut ilmu titen yang ada, segala sesuatu yang terjadi dan ngetren di daerah Solo, Jogjakarta dan sekitarnya tak jarang menjadi perlambang khusus bakal terjadinya sebuah peristiwa besar dan berskala nasional. 

Masih segar dalam ingatan Wisnu, sebelum terjadi peristiwa G 30 S/PKI tahun 1965, di Solo dan daerah sekitarnya sempat merebak mainan anak berupa perang-perangan dan makanan kecil ampyang. Tak tahunya setelah muncul fenomena itu terjadi peristiwa yang amat menggiriskan tersebut. Begitu pula sebelum terjadi Penembankan Misterius (Petrus) semasa era pemerintahan Soeharto untuk menekan tindak kriminalitas di Solo, Jogjakarta dan sekitarnya. Juga ditandai merebaknya orang berjualan bandeng presto dan es jus. Contoh nyata lain adalah terjadinya gelombang reformasi dan peristiwa bakar-bakaran tahun 1989 di Solo dan daerah lain. Sebelum persitiwa itu berkecamuk, di Solo dan sekitarnya juga sempat merebak orang berjualan jagung bakar dan lagu Anoman Obong yang seakan menjadi nyanyian wajib bagi setiap orang.

”Diakui atau tidak, segala sesuatu yang fenomenal dan terjadi di Solo, Jogjakarta, dan sekitarnya kenyataanya sering menjadi pertanda khusus bakal bergulirnya sebuah peristiwa besar di negara ini, ” terang Wisnu. Bagaimana dengan merebaknya anthurium belakangan ini? Menurut Wisnu, tanaman anthurium yang saat ini menggetarkan beberapa daerah setidaknya bisa dikaji dari dua sisi, yakni secara rasional dan irasional. Secara rasional, merebaknya anthurium sebenarnya sebagai pelarian atau katup pengaman dalam mengatasi pengangguran serta sebagai media orang-orang yang senang melakukan spekulasi. ”Khususnya di kota Solo dan sekitarnya. Setelah segala bentuk perjudian dihapus, masyarakat perlu mencari alternatif yang bisa mendatangkan uang. Akhirnya ditemukan alternatif berupa mabuk jenmanii dan jenis lainnya ini,” katanya. 

Secara irasional atau didasarkan pada pemahaman spiritual-supranatural, terang Wisnu, dengan merebaknya jenmanii yang ditangkap sebagai sasmita alam menyiratkan bahwa pada waktu yang akan datang bakal bermunculan tunas-tunas bangsa keturunan dari orang-orang unggul yang sebelumnya hanya bersembunyi atau terkurung dalam wilayah terbatas seperti sifat tanaman jenmanii. ”Ini bukan gothak-gathuk-mathuk, tetapi saya cenderung memastikan, ke depan nantinya bakal muncul tunas-tunas bangsa dan memperlihatkan eksitensinya. Tunas-tunas bangsa itu nantinya akan mampu membuat kuncara dan membawa perubahan zaman baru bagi Indonesia.” tukasnya sembari menambahkan bahwa tokoh-tokoh yang tak punya nilai dengan sendirinya tersingkir, betapapun terlihat indah. Wisnu memprediksi, kemunculan tunas pembawa pembaruan Indonesia tak akan lama lagi. Paling tidak di awal tahun 2009 nanti tunas-tunas bangsa itu sudah mulai menampakkan diri.

Jelasnya, di awal tahun 2009 bakal terjadi revolusi pola pikir besar-besaran berupa gerakan dalam bidang spiritual yang dilambangkan jenmanii serta bidang teknologi dan politik dilambangkan gelombang cinta. Kendati demikian, Wisnu mengingatkan, di balik sisi positif sasmita alam berupa merebaknya anthurium juga harus diwaspadai sisi negatifnya, meski dalam skala kecil. Yakni tunas-tunas bangsa yang menjual dirinya dengan harga mahal, namun bukan untuk kepentingan bangsa. 

Dijelaskan pula, sasmita alam merebaknya tanaman anthurium secara terperinci sebenarnya mengandung simbol dan makna khusus. Jelasnya, tanaman jenis ini mahal harganya kerena daunnya, bukan bunganya. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan berbegara saat ini, simbol yang ditangkap dari merebaknya anthurium yang mengandalkan daun dikandung maksud sebagai keabadian. Yakni sifat keabadian dari seorang pemimpin yang bisa menghidupi seluruh lapisan masyarakat dengan keadilan, kejujuran, dan keikhlasan. 

Sebaliknya, saat ini rupanya masyarakat sudah bosan dengan keindahan bunga yang hanya bersifat sementara. Jabarannya, masyarakat sudah tak mau lagi dengan tokoh atau pemimpin yang hanya mengandalkan kharisma, mengeksploitasi keteraniayaannya, tebar janji-janji harum, dan lainnya. ”Kedepan nanti tokoh atau pemimpin yang hanya mengandalkan simbol harumnya bunga sudah tidak laku lagi. Yang dibutuhkan adalah mereka yang punya simbol daun seperti mahalnya anthurium yang bermakna bisa menghidupi seluruh bangsa sampai ke akar-akarnya, menyentuh kehidupan wong cilik,” tanda Wisnu. >> IRUL SB

7 thoughts on “Sasmita Alam Merebaknya Tanaman Anthurium

  1. Untuk mampu menangkap fenomena ini memang diperlukan kepekaan batin. Segala sesuatu yang terjadi di dunia pasti berjalan dengan suatu alasan. Alasan itu ada di sana, tinggal kita mampu menguak tabir misteri itu atau tidak. Ilmu titen juga diamalkan oleh bangsa barat yang rasional itu, yakni dengan menganalisis keajegan dan pengulangan sejarah. Ilmu titen adalah ilmu yang memfokuskan pada keajegan itu.

    Saya tunggu artikel selanjutnya yang lebih panas!

  2. wah terkejut aku….hening…coba pak aku punya lukisan2 yang saya pasang di simpleme88.blogspot.com saya tarik kesimpulan ada juga kaitannya dengan artikel di atas dengan tanaman sebagai obyek khas dari diriku. coba apa lukisan ku juga ada terjemahan yang tersirat??????

  3. manusia hanya bisa memprediksi yang akan terjadi,… namun semua akan kembali kepada ketetapan (takdir) ilahi. tapi tak ada salahnya kalau kita berdoa bersama2 dan mengharapkan negeri ini (Indonesia) untuk menjadi lebih baik lagi dengan adanya tunas tunas baru. Hmm…🙂

  4. mudah-mudahan terjadi, kita tentunya berharap fenomena yg muncul baik adanya. Soalnya sekarang muncul generasi muda yang menampakkan pencitraan semata untuk menyenangkan atasan. Sampai saat inipun masih palsu adanya…..semoga jagad segera berbalik.

  5. With havin so much content do you ever run into any problems of plagorism or copyright violation?
    My website has a lot of exclusive content I’ve either written myself or outsourced but it looks like a lot of it is popping it up all over the web without my agreement. Do you know any methods to help prevent content from being ripped off? I’d truly appreciate it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: